Menjadi remaja itu asyik sekaligus indah. Menantang karena pada masa itu penuh gejolak kejiwaan yang mau tidak mau harus dihadapi setiap insan. Banyak, di antara remaja yang akhirnya gagal melawan gejolak kejiwaan itu. Tapi, juga tidak sedikit di antara mereka yang berhasil masa sulit itu dan akhirnya menjadi orang sukses.
Semua itu tinggal bagaimana sikap kita sebagai remaja dalam menghadapi problema yang mulai muncul seiring dengan bertambahnya usia. Salah satunya ketika cinta mulai menggoda, ketika perasaan mulai tertarik pada lawan jenis semakin bertumbuh. Itulah saat yang paling menantang bagi remaja.
Kadang cinta mampu menentramkan hati.
Namun suatu saat juga menumbuhkan kerinduan yang semakin lama menjadikan kedukaan semakin berat, hingga menghujam akal, iman, dan aqidah.
Cinta…
Entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya. Namun, kadangkala cinta cinta melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, namun dapat pula membuat para pemilik cinta terbakar olehnya. Cinta dan impian memang inda. Namun tatkala ia belum menyapa, hati dibuatnya gundah dan resah.
Bahkan mengikis kepercayaan kepada sang pemilik cinta. Cinta jangan pula membuatmu menggandakan aqidah karena aqidah sungguh tiada ternilai harganya, apalagi dengan basa basi cinta.
Ingatlah….!Cinta yang membara tak akan dapat menghapus ketentuan Allah SWT. Namun, ajaran Rasulullah SAW akan pupus, bukan karena senjata melainkan dengan perkataan lidah, tidak menggunakan kekerasan tapi dengan kelembutan, tanpa rasa benci dan dendam tapiu oleh sebuah cinta.
Jangan sampai hal itu terjadi! Hanya karena cinta, jangan kau korbankan akhlaq,aqidah, dan imanmu.
Cinta adalah nikmat di satu sisi, namun ia adalah fitnah. Tiada satu orangpun yang bisa terhindar darinya.
Hidup ini akan indah dengan cinta, namun cinta yang sesuai dengan dengan tempatnya. Cinta yang suci bukan yang akan menyerat kita ke neraka.
Sekali rasa cinta itu hadir…sambutlah dengan hatimu dan peliharalah dengan berdo’a pada-Nya.
Dan janganlah kamu terlalu mencintai duniamu. Karena cinta yang abadi.Hanyalah cinta kepada Allah.
Lieben
April 27, 2009 pada 1:28 pm (lomba blog, poesie)
guyonan
April 27, 2009 pada 1:26 pm (lomba blog, poesie)
Seorang pria asal Medan, bernama Ucok bertemu dengan sahabat lamanya yang berasal dari Ponorogo, yaitu Bejo. Lalu mereka asyik dalam sebuah percakapan saat akan mengunjungi kebun binatang.
Ucok : jo, itu mobil siapa koq bagus kali?
Bejo : mboh
Ucok : siapa tu cewek koq cakap kali, yang pake baju merah itu lho,istrinya siapa?
Bejo : mboh
Ucok : hebat kali tu mboh punya mobil bagus, punya istri yang cantik juga.
Bejo : maksudmu….?
Ucok : ehh…ehh…tu siapa yang duduk di bawah pohon tu sambil minta-minta…
Bejo : mboh
Ucok : haah… mboh yang punya mobil,istri yang cantik tu seorang pengemis? Kasihan kali istrinya…
Bejo : @$*!?%$&^#
Kekasihku
Engkau kokoh bagai candi Borobudur…
Tubuhmu kuat laksana Tembok Cina…
Jambulmu menjulang seakan Eiffel…
Dirimu dirindukan bagai Ka’bah…
Engkau disukai seperti Taj Mahal…
Tatapanmu tajam bagai puncak Pyramid
Namun mengapa…
Otakmu semiring menara Pisa
PD aje!
April 27, 2009 pada 1:23 pm (lomba blog, poesie)
Menjadi orang PD memang seru. Tapi kalau sudah terlanjur hilang PD, lalu apa Yang harus kita lakukan? Coba saja menerapkan kiat-kiat di bawah ini.
Giat mencari ilmu yang bermanfaat dari berbagai sumber
Kita harus bersifat fleksibel. Karena kita tidak pernah tahu, ilmu mana yang paling bermanfaat bagi kita. Seraplah ilmu di mana saja!
Giat mengamalkan ilmu yang kita miliki
Ilmu bagaikan sebilah mata pisau yang jika tidak pernah diasah akan tumpul dan berkarat. Sedekahkan ilmumu, maka Allah menambah ilmu bagimu.
Menjadi orang yang tepat di tempat yang tepat
Kita harus berusaha mendalami kemampuan yang kita miliki sehingga kita mempunyai spesialisasi. Kemampuan itu adakalanya akan bermanfaat. Dunia ini kejam, yang bertahan adalah yang terkuat.
Memperbaiki konsep diri
Islam mengajarkan setiap muslim mendalami ilmu agama dan mengamalkannya. Dari sanalah akan tumbuh keimanan yang kuat dengan kerendahan hati(self esteem), kitapun menjadi terdorong untuk meneladani sifat Rasulullah SAW (self ideal) terutama dari segi ibadah dan membuat kita senantiasa berpikir positif. Dan menyadari kelemahan-kelemahan yang kita miliki(self image)
Membuat peta diri
Caranya antara lain dangan mengevaluasi kekuatan, kelemahan, hambatan, dan peluang yang ada pada diri kita.
Berpikir positif, optimis, dan tahan kritik
Allah saja menyuruh kita untu selalu berprasangka baik terhadap-Nya, tentu kita jiga harus ber-huznudzan pada diri kita.
Mengikuti berbagai kompetisi sebagai pembuktian diri
Pengalaman positif dari mengikuti kegiatan-kegiatan yang kompetitif seperti ini bias menambah rasa PD(walau belum menjadi pemenang).
Menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi diri
Jangan jadikan kegagalan sebagai penghancur impian kita. Namun kita harus mengambil sesuatu dengan hikmahnya.
Berinteraksi dengan orang lain
Adakalanya, potensi kita akan terlihat setelah menjalin silatutahmi dengan orang lain. Semakin beragam orang yang kita temui, semakin beragam pula sisi kehidupan kita. Untuk itu kita tidak boleh meremehkan orang lain, seperti apapun dia. Di dalam segala sesuatu, selalu ada yang istimewa.
Membangun inner beauty
Pesona ini meliputi pesona ragawi, akal, dan hati.
Orang bijak bilang, sekitar kita adalah cermin dari diri kita. Oleh karena itu, jika kita ingin melihat sekitar kita indah dan nyaman, kita harus memulai dari dalam diri kita. Karena PD kita juga berasal dari dalam diri kita. Dan kita berpeluang mengendalikan suasana hti kita, secara otomatis suasana di sekitar kita mengikuti kekuatan positif dari diri kita. Ramah dan kejamnya dunia ini, kita yang menentukannya.
PD aja Lah!
shalahuddin
April 27, 2009 pada 1:21 pm (lomba blog, poesie)
Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi.Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).
Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.
Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin
Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.
Dari usia belasan tahun Shalahuddin selalu bersama ayahnya di medan pertempuran melawan Tentara Perang Salib atau menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya Sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun pada tahun 549 H/1154 M maka keduanya ayah dan anak telah menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya.
Dalam tiga pertempuran di Mesir bersama-sama pamannya Asaduddin melawan Tentara Perang Salib dan berhasil mengusirnya dari Mesir pada tahun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.
Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-’Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.
tausyah
April 18, 2009 pada 3:31 am (gedicht)
BE UR SELF
HIDUP dengan SABAR dan TAWAKKAL
Suatu saat anda ditimpa goncangan hidup berupa musibah,cobaan,atau kegagalan atas apa yang ingin kita capai padahal kita merasa sudah berikhtiar…kemudian kita larut dalam rasa susah,tak berguna,terpuruk,terbuang,dan seabreg keruwetan lainnya. Hati – hatilah, kondisi ini mungkin mendorong anda berbuat ceroboh, dan menimbulkan masalah baru yang tidak terduga. Kenapa kita tidak mencoba mengubah penafsiran kita atas kesusahan yang menimpa kita, kenapa kita perlu bersabar??
Sabar, khususnya ketika mendapatkan kesulitan adalah menjaga hati dari menggerutu, menjaga lisan dari berkeluh kesah dan menjaga diri dari perbuatan yang terlarang. “Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah”. (HR. Bukhari). Ketika mencoba sabar,saat itu kita telah memutuskan memberikan semangat untuk pantang menyerah,efeknya luar biasa kita bisa berpikir jernih atas masalah yang dihadapi dan menanamkan harapan untuk bangkit menuju keberhasilan. Dengan sabar kita akan dapat menangkap hikmah dari cobaan tersebut. Sabar menjadikan kita semakin tangguh dalam mengarungi hidup. Kita akan mengerti bahwa kesusahan adalah cara Allah agar kita tambah dewasa,tambah kuat,tambah menghargai hidup. Cobaan datang karena Allah sayang pada kita sebagai peringatan ketika kita khilaf. Segala yang mudah didapat akan mudah menghilang,segala yang susah didapat akan susah hilang,misalnya kita lihat buah durian yang sulit dibuka dan durinya menyeramkan ternyata isinya lezat
Hidup membawa kesempatan,dan dari kesempatan muncullah pertumbuhan, bagi beberapa orang,”kesempatan” dianggap sebagai masalah,bukan sebagai balok penyusun pertumbuhan, perubahan pun dapat disambut atau ditolak,pilihannya ada pada diri kita. Ketika kehidupan memunculkan tantangan dan rintangan,kita dapat memandang setiap kesempatan sebagai sebuah tantangan seraya menemukan kekayaan yang mungkin termuat didalamnya dapat meningkatkan kualitas kita. Dengan sabar kita merangkul rasa takut dan berhadapan dengan tantangan sambil mencari keuntungan dan kesempatan atas pertumbuhan yang ditawarkan. Lihatlah bagaimana bayi merasakan sakitnya awal pertumbuhan gigi,merasakan susahnya merangkak,sakitnya merupakan cara tubuh dan jiwa memunculkan potensi baru.
Sehingga sabar membuat kreatif ketika sampai saat kedatangan musibah atau penderitaan lalu kita bersyukur dengan harap cemas,”Alhamdulillah,Kemampuan baru apalagi yang akan diberikan Allah kepadaku?”
Kemampuan yang diberikan Allah kita gunakan untuk berusaha lebih baik, kemudian kita pasrahkan / tawakal pada Allah dengan sepenuh keyakinan karena “Siapakah Kita seHingga Harus Menyerah Pada Selain Allah???”. Dengan totalitas kepercayaan kepada Allah dan niat tulus ini maka kita menyimpulkan “JIKA SAYA BERPIKIR AKAN BISA ,MAKA SAYA PASTI BISA”
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al-Baqarah:155).
buceng
April 18, 2009 pada 2:20 am (poesie)
di smada ponorogo ada banyak kegiatan di hari sabtu
khususnya kalo ngobrol ttg ekskulnya, di sini ada ekskul beraliran religius, alam, bahasa, sains, olahraga, dsb.
tapi ane cuma mau crita about ekskul Rohis di Smadapo.
tiap sabtu, we have program, yaiku buceng.
buceng tu singkatan dari bursa curhat engkau, yg intinya qm berkumpul di mushola kayak majelis ta’lim tapi antara ikhwan dan akhwat dibatasi oleh sebuah hijab agar tidak nimbulin fitnah.
dan biasanya diisi sama pembina pendamping yg rela memberikan tausyahnya dlm kesibukan beliau.
dan berakhir sampai adzan dzuhur.
my friend
April 16, 2009 pada 2:12 pm (poesie)
You are my friend
We will be friend
As long as star twinkle in the sky
As long as angel are there up high
And till the day I die…
So,
If you are in trouble
If you need a hand
Just call my number
Because I’m your friend
And you are my best friend…
We will shine together
Told to you
I’ll be here together
You know that we will still have each other
You can stand behind my soldier
You are part of my entry
Here for infinity
(by lie_lien)
AL KINDI
April 16, 2009 pada 2:01 pm (Uncategorized)
TOPI(TOKOH PIJAR)
AL KINDI
Al-Kindi, the Latin Al-Kindus, who is entitled the “philosophers” of Arabs, came from the Arabs tribe of Kindah. His Ancestors had settled in Kufa where his father was governor. Al Kindi spent his early life in Kufa, which had become a center of the sciences. He studied the religious science as well as philosophical sciences after going to Baghdad. At this time the major movement of translation into Arabic had already begun. He knew Syria and perhaps some Greek and was well acquainted with Gresco Hellenstic scientific and philosophical works. For sometime, he was held in high esteem in court but spent the last part of his life in obscurity.
Al-Kindi was the first of the Moslem philosopher scientist. His interest was encyclopedic. The wrote about two hundreds seventy treaties, most of which are now lost, in logic Philosophy, physics, all branches of mathematics as well as music, medicine and natural history. He was the founder of the Islamic peripatetic school of Philosophy and was highly respect in the medieval and renaissance west to the extent that he was considered as one of the twelve great intellectual figures of the humanity. His immediate students were well-known geographers and mathematicians while his philosophic influence is to be seen directly in the writings of Al Farabi and later Moslem Peripatic.
{l’askar}
Segitiga Bermuda
April 16, 2009 pada 1:56 pm (Uncategorized)
Segitiga Bermuda
Tak semua pertanyaan ada jawabannya. Demikian pula dengan sejumlah peristiwa dan fenomena alam di bumi ini. Tak semua (belum) bisa dijelaskan. Mulai edisi ini,angkasa mencoba untuk mengangkstnya.Menarik untuk diikuti.
Bagi Anda yang gemar kisah misteri, pasti mengenal Segitiga Bermuda. Wilayah laut di selatan Amerika Serikat dengan titik sudut Miami (di Florida), Puerto Rico (Jamaica), dan Bermuda ini, telah berabad-abad menyimpan kisah yang tak terpecahkan. Misteri demi misteri bahkan telah dicatat oleh pengelana samudera macam Christopher Columbus. Sekitar 1492, ketika dirinya akan mengakhiri perjalanan jauhnya menuju dunia barunya, Amerika, Columbus sempat menyaksikan fenomena aneh di wilayah ini. Di tengah suasana laut yang terasa aneh, jarum kompas di kapalnya beberapa kali berubah-ubah.Padahal cuaca saat itu begitu baik.
Lebih dari itu, tak jauh dari kapal, pada suatu malam tiba-tiba para awaknya dikejutkan dengan munculnya bola-bola api yang terjun begitu saja ke dalam laut. Mereka juga menyaksikan lintasan cahaya dari arah untuk yang kemudian menghilang begitu saja.
Begitulah Segitiga Bermuda. Di wilayah ini, indera keenam memang seperti dihantui ‘suasana’ yang tak biasa. Namun begitu rombongan Columbus masih terbilang beruntung, karena hanya disuguhi ‘pertunjukkan’. Lain dengan pelintas-pelintas yang lain.
Menurut catatan kebaharian, peristiwa terbesar yang pernah terjadi di wilayah ini adalah lenyapnya sebuah kapal berbendera Inggris, Atalanta, pada 1880. Tanpa jejak secuilpun, kapal yang ditumpangi tiga ratus kadet dan perwira AL Inggris itu raib di sana. Selain Atalanta, Segitiga Bermuda juga telah menelan ratusan kapal lainnya.
Di lain kisah, Segitiga Bermuda juga telah membungkam puluhan pesawat yang melintasinya. Peristiwa terbesar yang kemudian terkuak sekitar 1990 lalu adalah raibnya iring-iringan lima Grumman TBF Avenger AL AS yang tengah berpatroli melintas wilayah laut ini pada siang hari 5 Desember 1945. Setelah sekitar dua jam penerbangan komandan penerbangan melapor, bahwa dirinya dan anak buahnya seperti mengalami disorientasi. Beberapa menit kemudian kelima TBF Avenger ini pun raib tanpa sempat memberi sinyal SOS.
Anehnya, misteri Avenger tak berujung di situ saja. Ketika sebuah pesawat SAR jenis Martin PBM-3 Mariner dikirim mencarinya, pesawat amfibi gembrot dengan tigabelas awak ini pun ikut-ikutan lenyap. Hilang bak ditelan udara. Keesokan harinya ketika wilayah-wilayah laut yang diduga menjadi tempat kecelakaan keenam pesawat disapu enam pesawat penyelamat pantai dengan 27 awak, tak satu pun serpihan pesawat ditemukan.
Ajaib Tahun demi tahun berlalu. Sekitar 1990, tanpa dinyana seorang peneliti berhasil menemukan onggokan kerangka pesawat di lepas pantai Fort Launderdale, Florida. Betapa terkejutnya orang-orang yang menyaksikan. Karena, ketika dicocok kan,onggokan metal itu ternyata bagian dari kelima TBF Avenger.
Kisah ajaib lainnya adalah hilangnya pesawat transpor C-119 Flying Boxcar pada 7 Juni 1965. Pesawat tambun mesin ganda milik AU AS bermuatan kargo ini, hari itu pukul 7.47 lepas landas dari Lanud Homestead. Pesawat dengan 10 awak ini terbang menuju Lapangan Terbang Grand Turk, Bahama, dan diharapkan mendarat pukul 11.23.
Pesawat ini sebenarnya hampir menuntaskan perjalanannya. Hal ini diketahui dari kontak radio yang masih terdengar hingga pukul 11. Sesungguhnya memang tak ada yang mencurigakan. Kerusakan teknis juga tak pernah dilaporkan. Tetapi Boxcar tak pernah sampaitujuan. “Dalam kontak radio terakhir tak ada indikasi apa-apa bahwa pesawat tengah mengalami masalah. Namun setelah itu kami kehilangan jejaknya,” begitu ungkap juru bicara Penyelamat Pantai Miami. “Besar kemungkinan pesawat mengalami masalah kendali arah (steering trouble) hingga nyasar ke lain arah,” tambahnya.
Seketika itu pula tim SAR terbang menyapu wilayah seluas 100.000 mil persegi yang diduga menjadi tempat kandasnya C-119. Namun hasilnya benar-benar nihil. Sama seperti hilangnya pesawat-pesawat lainnya di wilayah ini, tak satu pun serpihan pesawat atau tubuh manusia ditemukan.
“Benar-benar aneh. Sebuah pesawat terbang ke arah selatan Bahama dan hilang begitu saja tanpa jejak,” demikian komentar seorang veteran penerbang Perang Dunia II.
Seseorang dari Tim SAR mengatakan, kemungkinan pesawat jatuh di antara Pulau Crooked dan Grand Turk. Bisa karena masalah struktur, ledakan, atau kerusakan mesin. Kalau memang pesawat meledak, kontak radio memang pasti tak akan pernah terjadi, tetapi seharusnya kami bisa menemukan serpihan pecahannya. Begitu pula jika pesawat mengalami kerusakan, mestinya sang pilot bisa melakukan ditching (pendaratan darurat di atas air). Pasalnya, cuaca saat itu dalam keadaan baik. Dalam arti langit cerah, ombak hanya sekitar satu meter, dan angin hanya 15 knot.
Analisis selanjutnya memang mengembang kemana-mana. Namun tetap tidak menghasilkan apa-apa. Kasus C-119 Flying Boxcar pun terpendam begitu saja, sampai akhirnya pada tahun 1973 terbit artikel dari International UFO Bureau yang mengingatkan kembali sejumlah orang pada kasus ajaib tersebut.
Dalam artikel ini dimuat kesaksian astronot Gemini IV, James McDivitt dan Edward H. White II, yang justru membuat runyam masalah. Rupanya pada saat-saat di sekitar raibnya C-119, dia kebetulan tengah mengamati wilayah di sekitar Karibia. Gemini kebetulan memang sedang mengawang-awang di sana. Menurut catatan NASA, pada 3 sampai 7 Juni 1965 keduanya tengah melakukan eksperimen jalan-jalan ke luar kapsul Gemini dengan perlengkapan yang dirahasiakan.
Menurut Divitt, dia melihat sebuah pesawat tak dikenal (UFO) dengan semacam lengan mekanik kedapatan sedang meluncur di atas Karibia. Beberapa menit kemudian Ed White pun menyaksikan obyek lainnya yang serupa. Sejak itulah lalu merebak isu, C-119 diculik UFO. Para ilmuwan pun segera tertarik menguji kesaksian ini. Tak mau percaya begitu saja, mereka mengkonfirmasi obyek yang dilihat kedua astronot dengan satelit-satelit yang ada disekitar Gemini IV. Boleh jadi ‘kan yang mereka salah lihat ? Maklum saat itu (hingga kini pun), banyak pihak masih menilai sektis terhadap kehadiran UFO.
Ketika itu kepada kedua astronot disodori gambar Pegasus 2, satelit raksasa yang memang memiliki antene mirip lengan sepanjang 32 meter dan sejumlah sampah satelit yang ada di sekitar itu. Namun baik dari bentuk dan jarak, mereka menyanggah jika telah salah lihat.
“Sekali lagi saya tegaskan, dengan menyebut UFO ‘kan tak berarti saya menunjuk pesawat ruang angkasa dari planet lain. Pengertian UFO sangat universal. Bahwa jika saya melihat pesawat yang menurut penilaian saya tak saya kenal, tidakkah layak jika saya menyebutnya sebagai UFO?” sergah Divitt.Begitulah kasus C-119 Flying Boxcar yang tak pernah terpecahkan hingga kini. Diantara kapal atau pesawat yang raib di wilayah Segitiga Bermuda kisahnya memang senantiasa sama. Terjadi ketika cuaca sedang baik, tak ada masalah teknis, kontak radio berjalan biasa, tetapi si pelintas tiba-tiba menghilang begitu saja. Tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Banyak teori kemudian dihubung-hubungkan dengan segala kejadian di sana. Ada yang menyebut teori pelengkungan waktu, medan gravitasi terbalik, abrasi atmosfer, dan ada juga teori anomali magnetik-gravitasi. Selain itu ada juga yang mengaitkannya dengan fenomena gampa laut, serangan gelombang tidal, hingga lubang hitam (black-hole) yang hanya terjadi di angkasa luar sana. Aneh-aneh memang analisanya, namun tetap saja tak ada satu pun yang bisa menjelaskannya.
mabit rohis smada
April 16, 2009 pada 1:50 pm (Uncategorized)
Info Rohis
MABIT KE DARUL ATSA
Di Rubrik ini. Ane mo crita about kegiatan Rohis sebulan lalu. Btw, antum dah tw lom klo Rohis baru aja ngadain Mabit gabungan ke Madiun. Ni simak dan jangan sampe’ bengong atau malah ketiduran.
Di siang hari yang cerah, ato tepatnya ba’da dzuhur, kami para aktivis Rohis berkumpul di Mushola untuk persiapan Mabit & dengerin tausyah & ceramah dari Ustadz Nurfian.
Tepat ba’da Ashar, kami bersiap-siap dan berdo’a semoga perjalanan kami dilindungi Allah SWT. Yus, kami naek bus yang langsung tancap gas dengan kecepatan penuh. Wuihh, pemandangan saat perjalanan subhanallah gak bisa digambarin dengan sebuah kalimat. Deretan sawah, barisan bukit dan jajaran pepohonan seakan-akan menyambut kedatangan kami. Perjalanan yang cukup menyita energi kami terbayarkan dengan kehadiran sebuah masjid megah di hadapan kami.
Acara ba’da isya’, yaitu dengerin ceramah dari Ustadz Syamsuri yang menggembleng kita semua untuk tampil beda setelah Mabit ini. Kita diharuskan lebih bersemangat dan menambah kuantitas maupun kualitas Ibadah kita.
Setelah acara selesai, we went to Dreamy Island. Aber, ane(penulis) dan sebagian teman yang lain duduk-duduk di beranda sembari menikmati cuaca yang cerah dan hening pada tengah malam.
Sementara yang lain asyik dengan obrolan maupun asyik dengan ngoroknya, ane & pak. Ketua turun dari markas besar ikhwan menuju pinggiran persawahan. Terdengar melodi indah dari serangga-serangga yang bertasbih pada Tuhannya. Belum lagi, keindahan lampu tower berwarna merah layaknya bintang yg berkelap-kelip di atas sebuah bukit dan sungguh indah dilihat dari kejauhan. Lalu, semua menuju tempat terindah dengan iringan bunga tidur.
Tepat pukul 02.00, kami bangun untuk Qiyamul Lail dan Musahabah. Dengan kelopak mata yang begitu berat dan dinginnya malam yang terasa begitu menusuk tulang-tulang kami, kami terus bertahan dan mencoba meng-Introspeksi perbuatan-perbuatan yang pernah kami lakukan di masa lalu Setelah itu, dilanjutkan dengan shalat Shubuh dan Tilawah bersama. Saat mentari mulai menunjukkan sinarnya, kami menuju masjid untuk menyimak pengajian tiap hari minggu bersama warga sekitar.Tampak wajah2 dari para ikhwan yang terlihat lesu dan tak kuasa menahan kantuk.
Selanjutnya, breakfast! Inkhwan-akhwat yang kelihatan lesu dari tadi mendadak berubah ceria saat kata “sarapan” dikumandangkan.
The next, outbound. Sebelum acara nie sebagian dari ikhwan ngadain napak tilas di sungai di bawah bukit masjid berdiri. Kami menyusuri sungai yang masih belum tercemar. Meskipun, kami basah kuyub, kami tetep semangat menjajal medan yg sulit Walopun akhirnya kami harus kembali ke halaman masjid untuk outbound.
Dari outbond yg katanya senilai satu jutaan jika diberikan pada acara extreme, kami mndpat bnyak masukan ttg permasalahan kami di bidang organisasi. Khususnya, kita harus menghindari yg namanya perselisihan yg berdampak pd perpecahan, kita juga harus menentukan rencana dan stategi yg akan kita lakukan ke depannya.
Sehabis outbound, kami bersih2 diri dan foto2 di halaman masjid ‘n persiapan pulang ke Ponorogo. Wir gehen zu Ende zuruck.