Menjadi remaja itu asyik sekaligus indah. Menantang karena pada masa itu penuh gejolak kejiwaan yang mau tidak mau harus dihadapi setiap insan. Banyak, di antara remaja yang akhirnya gagal melawan gejolak kejiwaan itu. Tapi, juga tidak sedikit di antara mereka yang berhasil masa sulit itu dan akhirnya menjadi orang sukses.
Semua itu tinggal bagaimana sikap kita sebagai remaja dalam menghadapi problema yang mulai muncul seiring dengan bertambahnya usia. Salah satunya ketika cinta mulai menggoda, ketika perasaan mulai tertarik pada lawan jenis semakin bertumbuh. Itulah saat yang paling menantang bagi remaja.
Kadang cinta mampu menentramkan hati.
Namun suatu saat juga menumbuhkan kerinduan yang semakin lama menjadikan kedukaan semakin berat, hingga menghujam akal, iman, dan aqidah.
Cinta…
Entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya. Namun, kadangkala cinta cinta melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, namun dapat pula membuat para pemilik cinta terbakar olehnya. Cinta dan impian memang inda. Namun tatkala ia belum menyapa, hati dibuatnya gundah dan resah.
Bahkan mengikis kepercayaan kepada sang pemilik cinta. Cinta jangan pula membuatmu menggandakan aqidah karena aqidah sungguh tiada ternilai harganya, apalagi dengan basa basi cinta.
Ingatlah….!Cinta yang membara tak akan dapat menghapus ketentuan Allah SWT. Namun, ajaran Rasulullah SAW akan pupus, bukan karena senjata melainkan dengan perkataan lidah, tidak menggunakan kekerasan tapi dengan kelembutan, tanpa rasa benci dan dendam tapiu oleh sebuah cinta.
Jangan sampai hal itu terjadi! Hanya karena cinta, jangan kau korbankan akhlaq,aqidah, dan imanmu.
Cinta adalah nikmat di satu sisi, namun ia adalah fitnah. Tiada satu orangpun yang bisa terhindar darinya.
Hidup ini akan indah dengan cinta, namun cinta yang sesuai dengan dengan tempatnya. Cinta yang suci bukan yang akan menyerat kita ke neraka.
Sekali rasa cinta itu hadir…sambutlah dengan hatimu dan peliharalah dengan berdo’a pada-Nya.
Dan janganlah kamu terlalu mencintai duniamu. Karena cinta yang abadi.Hanyalah cinta kepada Allah.
Lieben
April 27, 2009 pada 1:28 pm (lomba blog, poesie)
guyonan
April 27, 2009 pada 1:26 pm (lomba blog, poesie)
Seorang pria asal Medan, bernama Ucok bertemu dengan sahabat lamanya yang berasal dari Ponorogo, yaitu Bejo. Lalu mereka asyik dalam sebuah percakapan saat akan mengunjungi kebun binatang.
Ucok : jo, itu mobil siapa koq bagus kali?
Bejo : mboh
Ucok : siapa tu cewek koq cakap kali, yang pake baju merah itu lho,istrinya siapa?
Bejo : mboh
Ucok : hebat kali tu mboh punya mobil bagus, punya istri yang cantik juga.
Bejo : maksudmu….?
Ucok : ehh…ehh…tu siapa yang duduk di bawah pohon tu sambil minta-minta…
Bejo : mboh
Ucok : haah… mboh yang punya mobil,istri yang cantik tu seorang pengemis? Kasihan kali istrinya…
Bejo : @$*!?%$&^#
Kekasihku
Engkau kokoh bagai candi Borobudur…
Tubuhmu kuat laksana Tembok Cina…
Jambulmu menjulang seakan Eiffel…
Dirimu dirindukan bagai Ka’bah…
Engkau disukai seperti Taj Mahal…
Tatapanmu tajam bagai puncak Pyramid
Namun mengapa…
Otakmu semiring menara Pisa
PD aje!
April 27, 2009 pada 1:23 pm (lomba blog, poesie)
Menjadi orang PD memang seru. Tapi kalau sudah terlanjur hilang PD, lalu apa Yang harus kita lakukan? Coba saja menerapkan kiat-kiat di bawah ini.
Giat mencari ilmu yang bermanfaat dari berbagai sumber
Kita harus bersifat fleksibel. Karena kita tidak pernah tahu, ilmu mana yang paling bermanfaat bagi kita. Seraplah ilmu di mana saja!
Giat mengamalkan ilmu yang kita miliki
Ilmu bagaikan sebilah mata pisau yang jika tidak pernah diasah akan tumpul dan berkarat. Sedekahkan ilmumu, maka Allah menambah ilmu bagimu.
Menjadi orang yang tepat di tempat yang tepat
Kita harus berusaha mendalami kemampuan yang kita miliki sehingga kita mempunyai spesialisasi. Kemampuan itu adakalanya akan bermanfaat. Dunia ini kejam, yang bertahan adalah yang terkuat.
Memperbaiki konsep diri
Islam mengajarkan setiap muslim mendalami ilmu agama dan mengamalkannya. Dari sanalah akan tumbuh keimanan yang kuat dengan kerendahan hati(self esteem), kitapun menjadi terdorong untuk meneladani sifat Rasulullah SAW (self ideal) terutama dari segi ibadah dan membuat kita senantiasa berpikir positif. Dan menyadari kelemahan-kelemahan yang kita miliki(self image)
Membuat peta diri
Caranya antara lain dangan mengevaluasi kekuatan, kelemahan, hambatan, dan peluang yang ada pada diri kita.
Berpikir positif, optimis, dan tahan kritik
Allah saja menyuruh kita untu selalu berprasangka baik terhadap-Nya, tentu kita jiga harus ber-huznudzan pada diri kita.
Mengikuti berbagai kompetisi sebagai pembuktian diri
Pengalaman positif dari mengikuti kegiatan-kegiatan yang kompetitif seperti ini bias menambah rasa PD(walau belum menjadi pemenang).
Menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi diri
Jangan jadikan kegagalan sebagai penghancur impian kita. Namun kita harus mengambil sesuatu dengan hikmahnya.
Berinteraksi dengan orang lain
Adakalanya, potensi kita akan terlihat setelah menjalin silatutahmi dengan orang lain. Semakin beragam orang yang kita temui, semakin beragam pula sisi kehidupan kita. Untuk itu kita tidak boleh meremehkan orang lain, seperti apapun dia. Di dalam segala sesuatu, selalu ada yang istimewa.
Membangun inner beauty
Pesona ini meliputi pesona ragawi, akal, dan hati.
Orang bijak bilang, sekitar kita adalah cermin dari diri kita. Oleh karena itu, jika kita ingin melihat sekitar kita indah dan nyaman, kita harus memulai dari dalam diri kita. Karena PD kita juga berasal dari dalam diri kita. Dan kita berpeluang mengendalikan suasana hti kita, secara otomatis suasana di sekitar kita mengikuti kekuatan positif dari diri kita. Ramah dan kejamnya dunia ini, kita yang menentukannya.
PD aja Lah!
shalahuddin
April 27, 2009 pada 1:21 pm (lomba blog, poesie)
Shalahuddin Al-Ayyubi berasal dari bangsa Kurdi.Ayahnya Najmuddin Ayyub dan pamannya Asaduddin Syirkuh hijrah (migrasi) meninggalkan kampung halamannya dekat Danau Fan dan pindah ke daerah Tikrit (Irak). Shalahuddin lahir di benteng Tikrit, Irak tahun 532 H/1137 M, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu, baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanky, gubernur Seljuk untuk kota Mousul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub (ayah Shalahuddin) diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat Raja Suriah Nuruddin Mahmud. Selama di Balbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik perang, strategi, maupun politik. Setelah itu, Shalahuddin melanjutkan pendidikannya di Damaskus untuk mempelajari teologi Sunni selama sepuluh tahun, dalam lingkungan istana Nuruddin. Pada tahun 1169, Shalahudin diangkat menjadi seorang wazir (konselor).
Di sana, dia mewarisi peranan sulit mempertahankan Mesir melawan penyerbuan dari Kerajaan Latin Jerusalem di bawah pimpinan Amalrik I. Posisi ia awalnya menegangkan. Tidak ada seorangpun menyangka dia bisa bertahan lama di Mesir yang pada saat itu banyak mengalami perubahan pemerintahan di beberapa tahun belakangan oleh karena silsilah panjang anak khalifah mendapat perlawanan dari wazirnya. Sebagai pemimpin dari prajurit asing Syria, dia juga tidak memiliki kontrol dari Prajurit Shiah Mesir, yang dipimpin oleh seseorang yang tidak diketahui atau seorang Khalifah yang lemah bernama Al-Adid. Ketika sang Khalifah meninggal bulan September 1171, Saladin mendapat pengumuman Imam dengan nama Al-Mustadi, kaum Sunni, dan yang paling penting, Abbasid Khalifah di Baghdad, ketika upacara sebelum Shalat Jumat, dan kekuatan kewenangan dengan mudah memecat garis keturunan lama. Sekarang Saladin menguasai Mesir, tapi secara resmi bertindak sebagai wakil dari Nuruddin, yang sesuai dengan adat kebiasaan mengenal Khalifah dari Abbasid. Saladin merevitalisasi perekonomian Mesir, mengorganisir ulang kekuatan militer, dan mengikuti nasihat ayahnya, menghindari konflik apapun dengan Nuruddin, tuannya yang resmi, sesudah dia menjadi pemimpin asli Mesir. Dia menunggu sampai kematian Nuruddin sebelum memulai beberapa tindakan militer yang serius: Pertama melawan wilayah Muslim yang lebih kecil, lalu mengarahkan mereka melawan para prajurit salib.
Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna pink). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin
Dengan kematian Nuruddin (1174) dia menerima gelar Sultan di Mesir. Disana dia memproklamasikan kemerdekaan dari kaum Seljuk, dan dia terbukti sebagai penemu dari dinasti Ayyubid dan mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir. Dia memperlebar wilayah dia ke sebelah barat di maghreb, dan ketika paman dia pergi ke Nil untuk mendamaikan beberapa pemberontakan dari bekas pendukung Fatimid, dia lalu melanjutkan ke Laut Merah untuk menaklukan Yaman. Dia juga disebut Waliullah yang artinya teman Allah bagi kaum muslim Sunni.
Dari usia belasan tahun Shalahuddin selalu bersama ayahnya di medan pertempuran melawan Tentara Perang Salib atau menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya Sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun pada tahun 549 H/1154 M maka keduanya ayah dan anak telah menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada pemimpinnya.
Dalam tiga pertempuran di Mesir bersama-sama pamannya Asaduddin melawan Tentara Perang Salib dan berhasil mengusirnya dari Mesir pada tahun 559-564 H/ 1164-1168 M. Sejak itu Asaduddin, pamannya diangkat menjadi Perdana Menteri Khilafah Fathimiyah. Setelah pamnnya meninggal, jabatan Perdana Menteri dipercayakan Khalifah kepada Shalahuddin Al-Ayyubi.
Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil mematahkan serangan Tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium yang melancarkan Perang Salib kedua terhadap Mesir. Sultan Nuruddin memerintahkan Shalahuddin mengambil kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad mulai tahun 567 H/1171 M (September). Setelah Khalifah Al-’Adid, khalifah Fathimiyah terakhir meninggal maka kekuasaan sepenuhnya di tangan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Sultan Nuruddin meninggal tahun 659 H/1174 M, Damaskus diserahkan kepada puteranya yang masih kecil Sultan Salih Ismail didampingi seorang wali. Dibawah seorang wali terjadi perebutan kekuasaan diantara putera-putera Nuruddin dan wilayah kekuasaan Nurruddin menjadi terpecah-pecah. Shalahuddin Al-Ayyubi pergi ke Damaskus untuk membereskan keadaan, tetapi ia mendapat perlawanan dari pengikut Nuruddin yang tidak menginginkan persatuan. Akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi melawannya dan menyatakan diri sebagai raja untuk wilayah Mesir dan Syam pada tahun 571 H/1176 M dan berhasil memperluas wilayahnya hingga Mousul, Irak bagian utara.